Lebih dari sekadar suplemen — inilah nutrisi yang bekerja perlahan namun nyata
Omega-3, khususnya EPA dan DHA, adalah jenis lemak esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh kita. Kita mendapatkannya dari makanan — terutama ikan laut berlemak seperti salmon, mackerel, dan sarden — atau dari suplemen berbasis minyak ikan.
Setelah masuk ke dalam tubuh, EPA dan DHA diserap dan didistribusikan ke berbagai jaringan, termasuk membran sel di sekitar sendi. Di sinilah keduanya mulai bekerja: memengaruhi cara sel merespons sinyal peradangan dan berkomunikasi satu sama lain.
Proses ini tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan agar kadar EPA dan DHA dalam jaringan mencapai level yang cukup untuk memberikan efek yang terasa nyata pada kenyamanan sendi.
Peradangan sebenarnya adalah respons alami tubuh terhadap cedera atau iritasi. Masalah muncul ketika peradangan ini berlangsung terlalu lama atau terlalu intens — itulah yang kemudian menyebabkan nyeri kronis, kekakuan, dan kerusakan jaringan sendi secara perlahan.
Omega-3 tidak menghentikan peradangan sepenuhnya — dan memang seharusnya tidak. Yang dilakukannya adalah membantu tubuh menyeimbangkan respons tersebut, sehingga peradangan yang berguna tetap bisa berjalan, sementara yang berlebihan bisa diredam.
Pendekatan ini membuat Omega-3 cocok untuk dikonsumsi jangka panjang sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bukan hanya sebagai respons terhadap gejala yang sedang muncul.
Omega-3 bukan obat yang bekerja dalam hitungan hari. Efek yang bermakna biasanya baru terasa setelah 3–6 bulan konsumsi yang teratur dan konsisten.
Mengonsumsi ikan berlemak 2–3 kali seminggu adalah cara paling alami mendapatkan Omega-3. Suplemen menjadi pilihan praktis bila asupan dari makanan tidak mencukupi.
Omega-3 bekerja paling baik dikombinasikan dengan olahraga ringan teratur, hidrasi yang cukup, dan pola makan yang seimbang secara keseluruhan.